Perlunya bijak berkomentar di Facebook



Media sosial Facebook yang mudah diakses oleh masyarakat dengan smartphone yang dimiliki, membangun masyarakat yang mulai melek informasi. Jika media televisi memberi sajian tayangan informasi satu arah, berbeda dengan sajian di media sosial., Netizen akan cenderung aktif melalui komentar untuk menaggapi informasi tertentu. Nitizen sendiri merupakan sebutan masyarakat yang terhubung dengan media sosial, Kini Pemikiran nitizen tidak dapat dikuasai untuk memaksa memahami informasi, tapi nitizen sendiri yang akan memahaminya melalui pandangan pribadi atau kelompok.
Kehadiran media sosial menjadi gerbang awal bagi nitizen untuk bebas berkomentar yang bersifat membangun atau kritis. Masyarakat tidak lagi dibatasi dengan satu sudut pandangan informasi tertentu, tapi masyarakat akan mengolah informasinya sendiri. Tentunya nitizen memiliki latar belakang yang berbeda dan memahami situasi lingkungan yang berbeda pula, sehingga berbeda pandangan mengenai perihal masalah tertentu menjadi sesuatu yang wajar.
Perihal yang menjadi kelemahan nitizen menggunakan media komentar sebagai alat apresiasi ialah bila adanya komentar yang menjatuhkan atau untuk menunjukkan rasa kebencian. Kebebasan  media facebook tidak memberi ruang batasan tertentu, sehingga semua pengguna media sosial memiliki peluang besar melalukan sesuatu yang diinginkan selama tidak menyalahi peraturan Facebook.
Komentar hinaan, mencaci, menjatuhkan, berunsur kebencian menjadi komentar yang banyak ditemukan di media Facebook. Apakah karena nitizen tersebut memiliki keterbatasan informasi atau pihak fanatik yang tidak memahami perbedaan sehingga melahirkan komentar yang negatif. Apapun alasannya, komentar yang tidak bersifat membangun, memberi saran atau kritis, bukanlah komentar yang sehat. Namun mengarahakn seluruh nitizen untuk bijak berkomentar bukan perkara yang mudah dan tidak mustahil untuk mengecilkan potensinya, kecuali akun nitizen tersebut adalah anonim.
Pada dasarnya memberi komentar bukan suatu masalah, karena dalam content komentar merupakan media untuk menyalurkan pandangan-pandnagan setiap individu dan kebebasan berfikir. Namun yang menjadi masalah ialah kemauan individu untuk menyikapi dan menghargai perbedaan sebagai perkara yang membangun sangat minim, karena masih banyak yang ditemukan kolom komentar sebagai ajang untuk menunjukkan siapa yang benar dan salah.
Berbagai kasus mengenai komentar yang bersifat menghina telah diperkarakan menjadi pasal penginaan nama baik, seperti kasus penggunaan meme untuk menyingguang masalah Setya Novanto yang terjerat kasus korupsi E-ktp. Nitizen pembuat meme hanya bermaksud sebagai lelucon saja, namun bagi pihak SN tidak bisa menerima, akhirnya diperkara ke pihak berwajib.
Hal ini mengiring pada pemikiran bahwa komentar dan status di media sosial salah satunya facebook, menjadi ruang yang mulai dijumpai adanya batasan dalam berekspresi. Tentunya dari sederet kasus pencemaran nama baik yang berawal dari “iseng-iseng” berakhir pidana, menjadi bahan pertimbangan untuk lebih berhati-hati saat memberi komentar atau mengunggah status.
Cukup mudah memberi komentar bijak di media sosial, seperti menghindari masalah SARA, penggunaan kata yang baik dan bijak, kata bahasa yang santun, menaggapi komentar lain dengan kepala dingin (tanpa emosi), dan tidak bermusuhan walau berbeda pandangan. Bila setiap nitizen melakukan sikap-sikpa bijak tersebut, tentu suasana kolom komentar di facebook lebih bermutu dan bermuatan informasi yang positif, yang memberi masukan dan membangun informasi tambahan.

Muhammad Irsan Rasyad - 14/04/2018

Komentar